Selasa, 30 Oktober 2012

1 Merubah Lensa Kit menjadi Lensa Makro menggunakan Reverse Ring


Hai sobat exzo, jumpa lagi dengan saya yang pada kesempatan kali ini akan membagi tips dan trik bagi sobat exzo semua. Kali ini saya akan membahas tentang cara mendapatkan lensa makro dari lensa kit dengan menggunakan reverse ring.

Wah kok bisa.. bagaimana mungkin? pasti itu pertanyaan yang ada dibenak sobat exzo sekalian, memang sih kalau dilihat agak janggal saat kita pasang lensa prime 50mm atau lensa kit 18-55mm secara terbalik pada body kamera DSLR (ujung depan lensa menempel di body kamera) tapi memang begitulah cara agar mendapatkan lensa makro dari lensa kit yang memang bukan spesifikasi untuk makro. Alat tambahan yang digunakan untuk memasang lensa pada body kamera tersebut bernama reverse ring berikut ini penampakannya.



Alternatif ini menjadi pilihan banyak fotografer yang menginginkan lensa makro tanpa harus membeli lensa makro, karena kita hanya membutuhkan reverse ring yang harga nya relatif murah (ada yang dibawah Rp 100rb).

Cara memakai reverse ring juga sangat mudah kita tinggal pasang reverse ring pada body kamera sebelum lensa, lalu pasang lensa terbalik pada reverse ring yang sudah dipasangkan tadi. selesai kamera dengan lensa makro siap untuk digunakan memotret serangga atau objek lainya.

Tetapi menggunakan cara ini ada kekurangannya, yaitu kita akan kehilangan koneksi elektronik, antara kamera dan lensa. Sehingga fungsi autofokus tidak bekerja dan harus diset secara manual. Namun metering masih berfungsi seperti biasa, cukup gunakan mode P (program) atau aperture priority.

Demikian tadi tips dan trik dari saya, semoga dapat membantu sobat exzo dalam mendalami hobi  foto makro. Sampai jumpa pada postingan saya berikutnya.

Senin, 29 Oktober 2012

0 Lensa Tele Nikon Terbaru

Hai sobat Exzo, jumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan memberikan informasi atau review bagi sobat exzo yang gemar hunting foto dengan lensa tele. Ini bisa dibilang kabar gembira bagi sobat exzo yang membutuhkan atau akan beli lensa tele Nikon, karena bulan ini Nikon telah merilis produk lensa tele terbarunya dengan harga yang relatif murah, kenapa saya bilang murah? karena coba kita bandingkan dengan harga lensa tele Nikon generasi sebelumnya yaitu lensa Nikon 70-200mm f/2.8 ED VR yang selisih harganya mencapai 10.000.000 rupiah, tentunya akan timbul pertanyaan di benak sobat exzo, kenapa selisih harganya sebesar itu? dimana perbedaannya? mari kita lihat pebandingannya.


Perbedaan paling mencolok adalah pada beratnya, Nikon 70-200mm f/2.8 ED VR beratnya 1.540 gram, sedangkan Nikon 70-200mm f/4 ED VR memiliki bobot 850 gram (setengah dari Nikon 70-200mm f/2.8 VR). Ini adalah keuntungan bagi sobat exzo yang gemar hunting dan malas membawa yang berat-berat.

Harga lensa Nikon 70-200mm f/4 ED VR lebih murah yakni US$1.400.
Lensa Nikon 70-200mm f/4 ED VR juga memiliki teknologi vibration reduction (VR) terbaru, yakni generasi ketiga VR yang dapat menyediakan 5 stop stabilisasi.


Pada lensa Nikon zoom tele 70-200mm f/2.8 ED VR aperture maksimum f/2.8 dan aperture minimum f/22, sedangkan pada lensa tele Nikon 70-200mm f/4 ED VR Aperture maksimum  f/4 dan Aperture minimum f/32.


Sementara baru ini sedikit info yang saya dapat mengenai lensa tele Nikon terbaru, saya harap info yang saya bagikan kepada sobat exzo ini dapat bermanfaat bagi sobat exzo yang gemar hunting foto dengan lensa tele. sampai jumpa lagi pada postingan saya selanjutnya.

Sabtu, 20 Oktober 2012

0 Tools Wajib Pengguna Kamera DSLR

Hai sobat Exzo, jumpa lagi dengan saya, kali ini saya akan menulis artikel mengenai alat pendukung kamera yang wajib dimiliki pengguna kamera DSLR. Karena seseorang yang mempunyai kamera DSLR (Body kit dan Lensa), pasti timbul keinginan untuk membeli accesories atau alat pendukung lagi. Karena alat pendukung kamera sangat penting peranannya dalam menunjang hobi foto, khususnya yang ingin menjadi fotografer profesional. berikut alat dan accesories yang wajib dimiliki.

Tas Kamera / Camera Case.
Accesories yang satu ini merupakan accesories yang paling penting, dan paling saya rekomendasikan. Karena sangat beresiko apabila kamera DSLR selalu ditenteng atau  digantungkan di leher, tidak ada alasan lagi untuk menunda membeli tas kamera setelah Exzo lovers memiliki kamera DSLR, karena tas kamera akan melindungi Body kamera dan Lensa. Selain itu juga untuk membawa battery cadangan,  cleaning kit, dll.

Cleaning Kit.
Cleaning  kit terdiri dari combo pen, kain microfiber, blower, sikat pembersih dan penyeka sidik jari. alat  ini berguna untuk membersihkan lensa dari bekas sidik jari, percikan air, dan debu dll.

Filter UV.
Dari namanya saja sudah jelas, bahwa fungsi dari tools ini adalah untuk filtering sinar UV. Tetapi bagi sebagian fotografer tools ini digunakan untuk melindungi lensa dari debu, kotoran dan goresan, bisa dikatakan tools multifungi. Harga sebuah filter UV terbilang Variatif, mulai dari Rp. 50.000 sampai dengn Rp. 1.000.000. tergantung pada kualitas filter.

Battery Cadangan.
Tools ini sering dianggap sepele, atau sering diabaikan orang. Padahal, tools ini sangat penting fungsinya. misalnya pada saat berlibur, atau pada saat hunting foto di alam terbuka dan tidak memungkinkan untuk charging battery, disini lah peranan penting kalau memilik battery cadangan. Battery cadangan bisa dibeli di toko perlengkapan kamera, atau via Online shop.

Tripod.
Tools yang satu ini wajib dipunyai kalau sudah terjun ke profesional. Karena merupakan faktor utama untuk menghasilkan jepretan yang tajam, foto dengan speed rendah, speed tinggi, foto diri sendiri, foto dengan cahaya rendah semuanya itu membutuhkan bantuan tripod. namun demikian, ada banya jenis tripod yang dapat dipilih, sesuaikan dengan kebutuhan saja.

Oke sobat Exzo, sekian dulu tips dari saya, semoga bermanfaat.

Kamis, 18 Oktober 2012

7 Tips Dalam Memilih Tas Kamera DSLR


Hai sobat Exzo, kali ini saya akan menulis tentang tips dalam memilih tas kamera DSLR, Tas kamera adalah salah satu kelengkapan penting bagi pemilik kamera, agar leluasa pada saat hunting foto atau saat jalan-jalan dan berpergian untuk mengabadikan momen-momen penting. sudah cukup intro nya sekarang mari kita bahas tips saat memilih tas kamera.

Pilih busa kompartemen tebal.
Busa untuk sekat kompartemen tebal akan mengurangi efek benturan pada body kamera atau lensa yang ada didalam tas. So.. pilihlah tas kamera yang mempunyai busa tebal untuk pemisah kompartemen, agar melindungi body kamera dan lensa terhadap benturan.

Sesuaikan dengan kebutuhan.
Yang saya maksud dengan sesuaikan dengan kebutuhan disini adalah, calon pembeli harus tahu apa yang kira-kira akan dibawa dalam tas yang akan dibeli. Karena ada bermacam-macam tools dan accesories untuk kamera, jadi pastikan dulu, apa yang akan dibawa dalam hunting. Misalkan hanya membawa peralatan standar, kita bisa memilih tas yang ukurannya tidak terlalu besar. Tetapi apabila sering berpergian ke penjuru nusantara atau bahkan ke luar negeri, alangkah baiknya jika memilih tas yang berukuran besar, yang bisa untuk memuat laptop, lensa, lampu flash dan accesories lain.

Cari info di Internet atau media lain.
Agar tahu spesifikasi tas yang ingin dibeli, dan supaya tidak menyesal di kemudian hari saat membeli tas via online shop, maka sebaiknya sebelum membeli tas kamera, kita mencari infonya di Internet. Apabila beli langsung ke toko kamera, saya sarankan ajaklah teman yang lebih tahu, dan lebih paham mengenai tas kamera.

Usahakan ada rain covernya.
Rain cover adalah pelindung hujan, rain cover sangat penting karena lapisan ini akan melindungi barang yang ada di dalam tas dari hujan dan air. Ini penting sekali pada saat sedang hunting di alam terbuka atau outdoor. Walaupun pada dasarnya bahan tas kamera DSLR sudah tahan air, tetapi lebih baik lagi pada saat hujan kita melapisinya dengan rain cover. Apabila sudah terlanjur membeli tas kamera yang belum ada rain covernya, kita bisa membelinya secara  terpisah di toko perlengkapan kamera.

Handmade Bag why not?
Apabila budget terbatas dan kebutuhan akan tas kamera sudah mendesak tidak ada salahnya membeli handmade bag. Sekarang ini sudah banyak produsen lokal yang bisa membuat tas kamera dengan model dan kualitas yang bagus, dengan harga terjangkau pula. Jangan meremehkan produk lokal, karena kualitasnya bisa disetarakan dengan tas kamera pabrikan, dan dengan harga relatif lebih murah.

sekian tips dari saya, semoga dapat membantu sobat Exzo dalam memilih  tas kamera yang sesuai dengan kebutuhan. sampai jumpa lagi pada postingan saya berikutnya.

Selasa, 16 Oktober 2012

0 Tips dan Trik Dalam Membeli Lighting Kit Bekas

Hallo para  penggemar dunia fotografi,  pada kali ini saya akan berbagi tips untuk anda yang akan membeli lighting kit bekas atau second, agar anda tidak mudah tertipu hanya karena tampilannya  yang masih ok, tapi ternyata sudah jelek kondisinya. berikut ini tips dari saya


  • Yang  paling utama saat kita mengecek keadaan lighting kit itu pastilah kita cek nyala  atau tidak.
  • Lihat perbedaannya dengan barang yang baru.
  • Cek putih tidaknya bulb, dan kestabilan WB nya.
  • Ukur kesetabilan lampu dengan light meter (kalau ada) coba dalam beberapa kali jepretan.
  • Cek dengan colormeter cek derajat kelvin nya masih sama atau setara atau tidak dengan yang baru.
  • Yang paling aman saat anda hendak membeli lighting kit bekas ajaklah teman anda yang lebih paham mengenai lighting kit studio pada saat anda melihat barangnya.

itu tadi beberapa tips dari saya, bagi anda yang akan membeli lighting kit bekas, semoga dapat membantu anda dalam memilih-milih barang second.

0 Apakah Light Meter Itu?

Light Meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya atau mengukur jumlah cahaya yang masuk melalui alat ini. Alat ini erat kaitannya dengan dunia fotografi, karena di dalam dunia fotografi Alat  pengukur cahaya ini sering digunakan untuk menentukan exposure yang tepat untuk foto.

Biasanya light meter ini akan mencakup sebuah komputer digital maupun analog. Dan yang tidak kalah penting light meter ini bisa digunakan untuk mengecek kestabilan lampu studio pada saat kita mau membeli lampu studio bekas atau second. Gambar dari light meter seperti dibawah ini


Sabtu, 13 Oktober 2012

1 Tips Memilih Lampu Studio

Dalam kita mengambil keputusan dalam hal apapun, alangkah bijaksananya kalau kita tidak gegabah atau tergesa-gesa, demikian halnya dalam kita memilih-milih lampu studio, karena kita tidak tahu kebutuhan kita ke depannya  hanya mutlak didalam studio (indoor) atau untuk keperluan di lapangan juga (outdoor), jadi kita harus pertimbangan masak-masak sebelum kita mengambil keputusan. Selain itu ada banyak faktor lain, selain hal seperti yang saya sebutkan diatas, antara lain

BUDGET

Apakah budget kita leluasa, sedang atau terbatas.

Lampu studio tersedia dipasaran mulai dari yang harganya 600ribu rupiah perbuah hingga yang 15juta rupiah perbuah.

Atau untuk Studio Kit dengan basic set 2 lampu dengan tiang lampu dan standard softbox mulai dari paket Rp 6juta rupiah hingga yang 45juta rupiah.

Jaminan untuk anda adalah, semua merek apapun baik lampu yang murah atau pun yang mahal sekalipun, selama lampu studio tersebut menghasilkan intensitas cahaya 5000 hingga 5500 K (Kalvin satuan cahaya) boleh dikatakan sudah memadai jadi anda mau beli yang murah boleh dan beli yang mahal juga boleh tanpa was was kalau yang murah hasilnya tidak sebagus yang mahal.

LOKASI

Apakah kita hanya akan memotret di studio saja atau kita juga sering memotret outdoor entah untuk PreWedding atau Glamour dengan Mix light.

Umumnya pemotretan di Studio biasanya memakai lampu yang mempunyai ukuran Joule antara 1200 hingga 3200 joule flash energy (semacam satuan untuk mengukur cahaya) ada yang memakai satuan Flash power 1000 watt/second kalau atau ada yang untuk mudahnya kita pakai Guide Number atau sekian GN).

Sedang untuk pemotretan di Outdoor kalau sifatnya hanya untuk fiil in kita cukup dengan flash light dengan joule kecil antara 600 hingga 1000 joule saja sudah cukup.

Anda bisa lihat di spec dari lampu yang anda beli, setidaknya bisa tanya atau cari referensi atau lihat di website lampu tersebut.

Contoh spec lampu studio:

- Specifications –

Flash Power : 600Ws

F-stop : 78GN

Recycling time : 1.0 – 4.0s (my actual real world measurement)

Flash duration : 1/1000 – 1/2000s

Color temperature : 5200 – 5500°K

Modeling light : E27/250W

Modeling mode : proportion mode/full

Output precision ± 0.01EV

Charging indication buzz/modeling light

PORTABILITY

Misalnya jawaban pertanyaan anda diatas tentang lokasi adalah Outdoor.

Apakah dilokasi pemotretan outdoor itu cukup tersedia fasilitas listrik atau GenSet (pembangkit listrik protable) atau sama sekali tidak ada.

Kalau ternyata di lokasi tidak ada sumber listrik dan mobil anda bisa mencapai lokasi pemotretan atau setidaknya dekat dengan lokasi pemotretan tersebut anda tetap bisa mendapatkan tenaga listrik dari mobil anda.

Anda dapat gunakan inverter atau perubah arus dari DC(melalui lighter port pada dashboar mobil) dan mengeluarkan arus AC yang bisa digunakan untuk pemotretan. Inverter ini bermacam macam mulai dari yang outputnya 100 watt hingga 250watt dan ini cukup memadai untuk lampu studio flash.

Bila ternyata lokasi pemotretan ini jauh dari mobil anda atau ditengah tengah sawah atau pepohonan, anda dapat pertimbangkan menggunakan Portable Light yaitu lampu studio yang cukup dengan tenaga batere 12 volt dan portable.

Ada beberapa merek yang dapat anda pilih seperti Porta Light kalau tidak salah keluaran Bowen. lalu ada Mobilite dari Broncolor, Mobilite dari Visatec dan Mobilite dari Golden Eagle dan ada beberapa merek lain.

Harganya pun tergantung budget anda mulai dari yang persetnya Rp2.5 juta hingga yang Rp27juta.

ACCESSORIES

Lampu Studio membutuhkan beberapa asesorie agar bekerja maksimal, dengan mengetahui jenis apa pemotretan yang akan sering anda lakukan akan memudahkan anda menentukan asesories apa saja yang perlu dibeli.

Misalnya:

- Reflektor pada lampu studio, ada yang sudut pencahayaan yang dipancarkan (iluminasi rangenya 60 hingga 90 derajat, ada yang lebih lebar lagi hingga 120derajat atau lebih.

- Payung ada yang silver, gold dan transparant, ukuran diameter juga berbeda dan bahan juga berbeda dan pasti harga juga berbeda mulai dari harga 80ribu hinga harga 450ribu.

- Lalu pintu penutup lampu studio atau pelembut efek cahaya, apakah anda perlu Barn door, Snoot, Honey Comb, strip softbox, hard softbox.

- Filter lampu studio

- Dsb

Rabu, 10 Oktober 2012

0 Memahami Konsep Exposure

Pada postingan kali ini saya akan mengajak anda untuk memahami konsep exposure. Seringkali setelah membeli kamera digital baik slr maupun point & shoot, kita terpaku pada mode auto untuk waktu yang cukup lama. Mode auto memang paling mudah dan cepat, namun tidak memberikan kepuasan kreatifitas.

Bagi yang ingin “lulus dan naik kelas” dari mode auto serta ingin meyalurkan jiwa kreatif kedalam foto-foto yang dihasilkan, ada baiknya kita pahami konsep exposure. Fotografer kenamaan, Bryan Peterson, telah menulis sebuah buku berjudul Understanding Exposure yang didalamnya diterangkan konsep exposure secara mudah.

Peterson member ilustrasi tentang tiga elemen yang harus diketahui untuk memahami exposure, dia menamai hubungan ketiganya sebagai sebuah Segitiga Fotografi. Setiap elemen dalam segitiga fotografi ini berhubungan dengan cahaya, bagaimana cahaya masuk dan berinteraksi dengan kamera.

Ketiga elemen tersebut adalah:
  • ISO – ukuran seberapa sensitif sensor kamera terhadap cahaya
  • Aperture – seberapa besar lensa terbuka saat foto diambil
  • Shutter Speed – rentang waktu “jendela’ didepan sensor kamera terbuka
Interaksi ketiga elemen inilah yang disebut exposure. Perubahan dalam salah satu elemen akan mengakibatkan perubahan dalam elemen lainnya.

Perumpamaan Segitiga Exposure

Mungkin jalan yang paling mudah dalam memahami exposure adalah dengan memberikan sebuah perumpamaan. Dalam hal ini saya menyukai perumpamaan segitiga exposure seperti halnya sebuah keran air.
  • Shutter speed bagi saya adalah berapa lama kita membuka keran.
  • Aperture adalah seberapa lebar kita membuka keran.
  • ISO adalah kuatnya dorongan air dari PDAM.
  • Sementara air yang mengalir melalui keran tersebut adalah cahaya yang diterima sensor kamera.
Tentu bukan perumpamaan yang sempurna, tapi paling tidak kita mendapat ide dasarnya. sebagaimana anda lihat, kalau exposure adalah jumlah air yang keluar dari keran, berarti kita bisa mengubah nilai exposure dengan mengubah salah satu atau kombinasi ketiga elemen penyusunnya. Anda mengubah shutter speed, berarti mengubah berapa lama keran air terbuka. Mengubah Aperture berarti mengubah seberapa besar debit airnya, sementara mengubah seberapa kuat dorongan air dari sumbernya.




0 Apakah Shutter Speed itu?

Secara definisi, shutter speed adalah rentang waktu saat shutter di kamera anda terbuka. Secara lebih mudah, shutter speed berarti waktu dimana sensor kita ‘melihat’ subyek yang akan kita foto. Gampangnya shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.

Supaya mudah, kita terjemahkan konsep ini dalam beberapa penggunaannya di kamera:

  • Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 30 detik, anda akan melihat tulisan seperti ini: 30’’
  • Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.
  • Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization.
  • Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.
  • Shutter speed untuk membekukan gerakan. Gunakan shutter speed setinggi mungkin yang bisa dicapai untuk membekukan gerakan. Semakin cepat obyek bergerak yang ingin kita bekukan dalam foto, akan semakin cepat shutter speed yang dibutuhkan. Untuk membekukan gerakan burung yang terbang misalnya, gunakan mode Shutter Priority dan set shutter speed di angka 1/1000 detik (idealnya ISO diset ke opsi auto) supaya hasilnya tajam. Kalau anda perhatikan, fotografer olahraga sangat mengidolakan mode S/Tv ini.
  • Blur yang disengaja – shutter speed untuk menunjukkan efek gerakan. Ketika memotret benda bergerak, kita bisa secara sengaja melambatkan shutter speed kita untuk menunjukkan efek pergerakan. Pastikan anda mengikutkan minimal satu obyek diam sebagai jangkar foto tersebut. 


0 Apa itu Depth of Field?

Depth of Field atau DOF apa itu...? mungkin ini yang terselip di benak para pembaca atau penghobi fotografi yang masih pemula, disini akan saya jelaskan mengenai definisi Depth of Field atau sering disebut juga f-stop. DOF, atau Depth of Field, untuk mudahnya bisa dijelaskan sebagai “bagian dari foto yang kelihatan tajam”.

Teorinya begini: lensa hanya bisa fokus di satu jarak tertentu, dan pada titik fokus ini gambar akan kelihatan paling tajam. Sedikit maju atau sedikit mundur dari titik ini maka gambar akan mulai blur secara gradual. Namun, karena kemampuan mata kita terbatas, perubahan ketajaman yang sedikit demi sedikit ini belum tentu tertangkap mata. Nah, area yang bagi mata masih bisa dianggap tajam inilah yang disebut Depth of Field.

Di fotografi, area ini bisa besar, bisa juga kecil. Bila kita melihat foto pemandangan di mana gambar terlihat tajam dari ujung ke ujung, itu berarti depth of field nya besar. Kalau kita melihat foto closeup di mana hanya obyeknya saja yang tajam sementara latar depan dan latar belakangnya tampak blur, maka depth of field nya lebih kecil.

Semakin besar depth of field, semakin besar area di foto yang tampak tajam. Semakin kecil depth of field semakin sempit area di foto yang tajam.

Lalu bagaimana mengatur depth of field ketika memotret?

Depth of field bergantung pada tiga faktor: jarak obyek, panjang lensa, dan besar kecil bukaan lensa (aperture). Jadi kalau jarak sama, dan lensa yang dipakai sama, maka untuk mengubah depth of field kita harus mengatur besar-kecil aperture.

Bicara besar kecil aperture sampailah kita ke istilah f-stop, atau f-number. Pernah dengar kan? Angka f-stop yang lazim misalnya f/4, f/16 atau f/22. Ini dia yang dimaksud dengan besar kecil aperture. Tidak usah bingung, ini rumus sederhana yang bunyinya: panjang fokus (f) dibagi dengan diameter aperture. Semakin besar angka diameter aperture, semakin kecil-lah nilai f-number kita (ya iya lah, angka pembagi makin besar, ya hasil pembagiannya jadi makin kecil)

Teorinya: semakin besar f-number, depth of field akan makin besar, semakin kecil f-number, depth of field makin kecil.

Jadi: Semakin besar f-number, semakin banyak area yang tajam, semakin kecil f-number, semakin sedikit area yang tajam.

Memakai f/16 atau f/22 misalnya, akan membantu untuk memotret pemandangan, karena dari ujung ke ujung gambar akan kelihatan tajam. Untuk gambar yang sama, memakai f/4 atau f/2.8 akan membantu untuk mengisolasi suatu obyek tertentu di dalam gambar, agar menjadi lebih dominan dari sekelilingnya.

Ah, ini sih hanya buat SLR. Kamera poket tidak bisa.
Siapa bilang? Di kamera digital yang mini pun tersedia fasilitas Aperture Priority. (Tentu hasilnya tidak sama dengan SLR, karena di kamera mini kita tidak bisa gonta-ganti lensa. Ingat di atas, depth of field juga bergantung pada panjang lensa).

Untuk ‘bermain-main’ depth of field kita tidak harus pakai SLR…

lihat ilustrasi gambar di bawah ini

menggunakan f-stop besar


menggunakan f-stop kecil




Selasa, 09 Oktober 2012

0 Apakah Aperture Itu?

Pada postingan saya kali ini akan saya jelaskan mengenai aperture. Aperture adalah besarnya bukaan dari lubang diafragma pada lensa kamera. Aperture mendefinisikan besarnya bukaan diafragma sebuah lensa. Gunanya untuk mengontrol cahaya yang masuk ke sensor pada kamera lewat bukaan pada lensa. Aperture mengacu pada ukuran lubang di lensa yang menentukan jumlah cahaya yang jatuh ke film atau sensor. Ukuran lubang (bukaan) dikendalikan oleh diafragma yang bisa disesuaikan mirip dengan pupil mata kita. Aperture mempengaruhi Exposure dan Depth of Field. Sama seperti shutter speed, ukuran bukaan merupakan setengah dari ukuran bukaan sebelumnya. Untuk mencapai hal ini, diafragma mengurangi diameter aperture dengan faktor 1,4 (akar kuadrat dari 2) sehingga permukaan aperture menjadi setengah kali lebih kecil.

Karena prinsip-prinsip dasar optik, ukuran aperture mutlak dan diameter tergantung pada panjang fokus (focal length). Sebagai contoh, diameter aperture 25mm pada lensa 100mm memiliki efek yang sama seperti diameter aperture 50mm pada lensa 200mm. Jika kita membagi diameter aperture dengan focal length, hasilnya sama dengan 1/4 pada contoh tersebut, terlepas dari focal length. Menggambarkan aperture sebagai pecahan dari focal length lebih praktis bagi para fotografer daripada menggunakan ukuran aperture mutlak. “Aperture relatif” ini disebut dengan f-number atau f-stop. Pada laras lensa, contoh 1/4 di atas ditulis sebagai f/4 atau F4 atau 1:4.

Dari situ dapat diketahui aperture berikutnya akan memiliki diameter yang 1,4 kali lebih kecil dari aperture sebelumnya, sehingga f-stop setelah f/4 akan f/4 x 1/1.4 atau f/5.6. Menurunkan ukuran aperture dari f/4 ke f/5.6 akan membagi dua jumlah cahaya yang masuk, terlepas dari focal length. Lensa modern menggunakan skala f-stop standar, yang merupakan urutan dari angka yang sesuai dengan faktor akar kuadrat dari 2 (atau 1,41), misalnya: f/1, f/1.4, f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22, f/32, f/45, f/64, f/90, f/128, dst. Nilai-nilai tersebut adalah hasil pembulatan agar lebih mudah untuk diingat. Urutan di atas dapat diperoleh dari:

 f/1 =f/1, f/1.4 =f/1.4, f/2 =f/2, f/2.8 =f/2.8

berikut ini ilustrasinya:



Semakin tinggi f-number, ukuran aperture akan semakin kecil (karena f-number adalah pecahan dari focal length).


1 Arti Istilah Pada Lensa Nikon

Berikut ini akan saya jelaskan mengenai istilah yang di pakai oleh Nikon untuk produk lensanya, Pemakai kamera DSLR Nikon sebagian besar tentunya juga memakai lensa Nikon. Hal ini dikarenakan lensa Nikon memiliki kualitas optik yang amat baik dan tentunya mempunyai banyak pilihan lensa yang tersedia. Dengan semakin berkembangnya teknologi lensa, kini istilah yang biasa dipakai pada lensa Nikon semakin banyak dan kadang-kadang membingungkan untuk sebagian orang.

Sebagai contoh, bagaimana maksud dari Nikkor AF-S DX 18-200mm 1:3.5-5.6G VR IF ED? Barangkali catatan kecil ini ada gunanya.

  • Nikkor >>> Nama untuk lensa buatan Nikon.
  • AF-S >>> Lensa Nikon yang memiliki motor ‘SWM’ sehingga proses auto fokus dilakukan di lensa, bukan pada bodi kamera. Lensa AF-S diyakini lebih cepat dan akurat dalam urusan auto fokus dibanding lensa AF lainnya.
  • DX >>> Lensa Nikon khusus untuk DSLR Nikon berformat DX (memiliki sensor APS-C). Lensa ini memiliki lingkar gambar lebih kecil dari lensa Nikon lain, sehingga memiliki ukuran yang juga lebih kecil. Apabila lensa ini dipasang pada DSLR Nikon berformat FX seperti Nikon D3, maka akan terjadi vignetting.
  • G >>> Menyatakan ketiadaan aperture ring pada lensa. Pemilihan nilai aperture hanya bisa dilakukan melalui dial kamera (kamera SLR Nikon lama tidak kompatibel dengan lensa G ini).
  • VR >>> Vibration Reduction, teknologi stabilizer pada lensa untuk meminimalisir getaran tangan saat memotret pada kecepatan rendah. Dengan memakai lensa VR kemungkinan gambar blur dapat dihindari karena elemen VR akan mengkompensasi getaran, kemampuannya hingga 3-4 stop.
  • IF >>> Internal Focusing, proses auto fokus terjadi didalam lensa sehingga tidak ada bagian luar lensa yang berputar saat lensa mencari fokus. Ini memungkinkan penambahan filter tertentu pada bagian depan lensa.
  • ED >>> Extra low Dispersion, elemen lensa khusus yang ditujukan meningkatkan kontras dan ketajaman dengan meniadakan penyimpangan warna saat cahaya memasuki bagian lensa / chromatic aberration.

Jadi kesimpulannya lensa tadi memiliki arti lensa Nikon berformat DX yang memiliki motor fokus pada lensa, memiliki jangkauan zoom terdekat di 18mm, terjauh di 200mm dengan diafragma maksimal pada saat wide di f/3.5, terjauh di f/5.6, memiliki teknologi stabilizer VR, tidak memiliki aperture ring, dilengkapi elemen lensa ED dan sistem mekanisme auto fokusnya secara internal. Karena lensa DX dirancang untuk dipasang di kamera Nikon DSLR bersensor APS-C, maka akan terkena crop factor 1,5x sehingga jangkauan efektifnya setara dengan 27-300mm.

Untuk Istilah Pada Lensa Nikon lainnya, masih banyak istilah lain yang biasa dipakai. Inilah diantaranya:

  • SIC >>> Super Integrated Coating, lapisan khusus untuk menghilangkan flare saat lensa terkena cahaya matahari.
  • N >>> Nano crystal coat, lapisan lensa yang juga dipakai untuk mengurangi flare dan ghosting.
  • Asph >>> Aspherical lens, lensa khusus untuk mengurangi distorsi dan penyimpangan warna.
  • D >>> Distance information, untuk memberikan informasi tentang jarak objek ke kamera sehingga membantu kerja sistem Matrix metering dan iTTL flash.
  • DC >>> Defocus Control, untuk mengubah-ubah variasi bokeh sehingga foto portrait dapt memiliki background yang blurnya sesuai.
  • Micro >>> Istilah untuk lensa khusus makro.
Itulah beberapa istilah dari lensa Nikon, barangkali ada gunanya bagi anda para pemakai dan calon pemakai kamera SLR Nikon. Semoga bermanfaat

Senin, 08 Oktober 2012

0 Tips Membeli Lensa Bekas

Dengan harga lensa baru yang semakin mahal, banyak dari kita yang memilih untuk membeli lensa bekas atau lensa second hand untuk berhemat. Lensa bekas adalah alternatif memikat karena harganya yang relatif lebih murah dan kalau kita bisa mengevaluasi kualitas sebuah lensa bekas maka kita bisa mendapatkan lensa bekas yang memang masih terjamin kualitasnya. Di artikel ini, saya akan coba menjelaskan keuntungan membeli lensa bekas serta bagaimana cara membelinya secara aman supaya terhindar dari salah beli.

Kenapa Membeli Lensa Bekas?
Alasan utama tentu saja mengemat biaya. Harga lensa bekas biasanya direntang 30% lebih murah dibanding kondisinya barunya, malah untuk lensa yang sudah berumur lebih tua kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah lagi.

Membeli Lensa Bekas Orang, Apakah Resikonya?
Sama seperti membeli mobil bekas, membeli motor bekas dan apapun yang kondisinya sudah tidak sempurna, semua mengandung resiko. Yang perlu kita lakukan adalah meminimalkan resiko yang ada. Ada beberapa tindakan yang perlu kita lakukan untuk meminimalkan resiko tersebut. Nah, pada artikel ini saya akan berusaha membantu anda supaya bisa meminimalkan resiko membeli lensa bekas tersebut.

Bukankah Lensa Bekas Biasanya Dijual Karena Ada Cacatnya?
Kehidupan di dunia ini memang selalu abu-abu, namun itu yang bikin hidup kita bergairah bukan. Hanya karena sebuah barang dijual bukan berarti barang tersebut rusak atau cacat. Saya punya tetangga yang punya gerai mobil bekas, dan mayoritas orang yang menjual mobil bekas adalah karena mereka membutuhkan uang atau ingin membeli mobil baru tapi harus menjual mobil lama mereka terlebih dahulu.

Orang menjual lensa zoom karena mereke kepincut kehebatan lensa prime  dan ingin berganti memakai lensa prime. Orang menjual lensa generasi lama karena keluar generasi yang lebih baru. Orang menjual lensa makro karena mereka dulu tergesa-gesa membeli tanpa menyadarai sebenarnya minat mereka tidak disitu. Si A ingin mengambil spesialiasi portrait dan menjual lensa wide anglenya. Tentu ada yang menjual lensa mereka karena ada jamur didalamnya, karena autofokus lensanya tidak akurat dan tentu ada juga lensa yang dijual karena mereka barang curian. Nah tugas kita adalah menyaring yang seperti ini dan membeli benar-benar dari mereka yang menjual dengan motivasi positif dan jujur, kalaupun ada cacatnya yang bisa dideteksi dari awal atau lebih baik lagi mereka bilang sejak awal. Saya pernah terpaksa menjual sebuah lensa yang autofokusnya ngaco dengan harga yang sangat murah, dan orang yang membelinya adalah yang tidak butuh autofokus karena mereka selalu memotret dengan manual fokus.

Beberapa Tips Membeli Lensa Bekas
Ini adalah beberapa panduan yang bisa anda lakukan sebelum membeli sebuah lensa bekas untuk me-minimalisir resiko yang sudah diterangkan diatas:

  • Periksa kondisi fisik optik lensa. Anda harus memeriksa bagian optik lensa dan mengamati kalau-kalau ada jamur di lensa, goresan atau debu. Jenis cacat seperti ini seharusnya mudah dilihat. Goresan kecil dan debu di bagian depan dan belakang lensa bisa menjadi bahan tawar menawar yang masuk akal. Jamur kalau ditemukan cukup mengkhawatirkan dan anda harus mengevaluasi apakah mudah dihilangkan 
  • Cek focusing ring dan zoom ring. Zoom ring adalah bagian yang diputar untuk zooming lensa, focusing ring adalah bagian yang diputar untuk mengubah titik fokus saat di manual fokus. Keduanya harusnya bisa diputar dengan mulus tanpa hambatan. Kalau terasa terhalang, mungkin ada serpihan didalamnya yang cukup mengkhawatirkan karena bisa merusak.
  • Cek kerja autofokus. Kecepatan sistem autofokus lensa bergantung pada kualitas lensa dan juga kamera. Ada beberapa lensa yang memang dari sananya lumayan lelet mengunci fokus, namun kalau anda membeli lensa berharga mahal, harusnya mereka mengunci fokus dengan mudah dan akurat. Pastikan sistem autofokus akurat dan cobalah cek dengan mode single ataupun continuous focus.
  • Bawalah laptop saat bertemu dengan penjual. Untuk apa membawa laptop? Agar kita bisa mengevaluasi hasil foto dari lensa tersebut. Cobalah pasang lensa ke kamera anda lalu pindah foto ke laptop supaya anda bisa zoom maksimal untuk memeriksa cacat, misalnya autofokus yang selalu meleset atau problem centering.
  • Membeli lensa bekas paling ideal: membeli dari orang yang anda kenal langsung. Hal ini bisa menghindari banyak sekali resiko karena kita tahu reputasi kenalan kita tadi. Kalau anda membeli lensa bekas dari teman yang tidak memakai lensa tadi, kita bisa tahu riwayat pemakaian serta bisa mencoba dan mengujinya secara leluasa terlebih dahulu. 
  • Kalaupun harus membeli dari orang yang tidak dikenal, usahakan ketemu secara fisik. Banyak yang merasa aman bertransaksi jarak jauh untuk sebuah nilai transaksi Rp 500 ribu misalnya. Namun kalau anda membeli lensa bekas seharga motor, saya sarankan harus bertemu dengan penjual secara langsung supaya tidak membeli kucing dalam karung. Anda harus memeriksa kondisi optik, kinerja mekanis dan fisik lensa dan sebagainya.
  • Pastikan lensa tidak memiliki centering problem. Cobalah memotret tembok bata atau obyek yang memiliki pattern yang berulang. Kemudian amati kualitas foto, kalau foto dibagian kanan sama bagusnya dengan foto bagian kiri maka lensa tersebut tidak memiliki problem centering.
  • Ingat-ingat prinsip ini: berhati-hatilah dengan barang yang too good to be true. Kalau anda membeli lensa yang harga barunya Rp. 20 Juta dan kondisi bekasnya hanya dihargai Rp. 5 Juta padahal umurnya baru setahun, maka anda harus berpikir ulang, masuk akal nggak sih? jadilah rasional dan teliti.

Intinya adalah, selalu periksa lebih dulu lensa second yang ingin anda beli seteliti mungkin. Ikuti tips diatas dan selalu waspada. Prioritaskan membeli dari orang yang anda kenal atau dari komunitas foto lokal dimana anda sering ikut nimbrung disitu. Kalaupun membeli dari orang yang belum anda kenal dan menggunakan forum atau situs jual beli online, utamakan membeli dari penjual dalam satu kota sehingga bisa bertemu langsung dengan penjual dan bisa memeriksa secara fisik lensa incaran anda sebelum membayar.



sumber http://belajarfotografi.com/tips-membeli-lensa-bekas/

Minggu, 07 Oktober 2012

1 Ravelli APLT2 49" Light Weight Aluminum Tripod




The Ravelli APLT2 merupakan sebuah tripod kamera yang sangat ringan namun dapat direntangkan hingga ketinggian 49 inci. Dengan berat tak lebih dari 1 pon, anda dapat terbebani karena tripod ini didesain dengan kaki-kaki alumunium dan head plastik yang sangat keras.

Tripod ini mempunyai kemampuan untuk memposisikan berbagai orientasi fokus kamera, dari portrait hingga landscape. Tiap-tiap ujung kakinya dilindungi karet untuk stabilitas permukaan medan yang berbeda-beda. Kaki tripod mempunya 3 tingkat rentang dengan berat bervariasi. 

Product Features
  • 49" height but it collapses to 16.5"
  • Lightweight and compact design
  • Pan and tilt motion with the option of shooting landscape or portrait
  • Center pole is extendable
  • Cary Bag and mini wire leg tripod are included









Sabtu, 06 Oktober 2012

1 Perbandingan Spesifikasi antara Nikon D600 vs Canon 6D

Nikon D600 dan Canon 6D adalah rival sejati, di pasaran luar negeri keduanya dijual di harga yang sama persis dan keduanya adalah kamera DSLR full frame yang relatif “lebih murah (ehm)” dibandingkan kamera DSLR full frame lain

Disini kita akan melihat perbandingan diantara keduanya murni dari sudut pandang spesifikasi sesuai data yang ada. Silahkan:

Perbandingan spesifikasi Nikon D600 vs Canon 6D
Kamera
SpesifikasiNikon D600Canon 6D
Resolusi sensor24,3 MP20, MP
Jenis SensorCMOSCMOS
Ukuran Sensor35,9×24 mm35,8×23,9 mm
Ukuran Pixel5,9µ6,55µ
Sensor CleaningYaYa
Ukuran foto6016 x 4016 px5472 x 3648 px
ProsesorEXPEED 3DIGIC 5+
Jenis viewfinderPentaprismaPentaprisma
Cakupan Viewfinder100 %97%
Built in flashYa dengan commander modeTidak
Kartu memory2 x kartu SD1 kartu SD
Continuous Mode5,5 FPS4,5 FPS
Shutter speed1/4000 detik – 30 detik1/4000 detik – 30 detik
Rating ketahanan shutter count150 ribu100 ribu
ISOISO 50, ISO 12800 – 25600ISO 50, ISO 512600, ISO 102400
Autofokus39 titik AF dengan 9 cross type11 titik AF dengan 1 cross type (center)
VideoYaYa
Ganti aperture di mode video (live view)TidakYa
Output VideoMOV, compressed dan uncompressedAVI, H.264/MPEG 4
Maksimum video1080p di 24p, 25p dan 30p1080p di 29,29p, 25p dan 23,9p
Mikrofonbuilt in dengan opsi stereobuilt in dgn opsi stereo
Ukuran LCD3,2 inch TFT LCD3,2 inchi TFT LCD
Resolusi LCD921,0000 dot1,004,000 dot
Built in GPSTidak adaAda
Fungsi Wi-fiBeli Eye-Fi atau WU–1BBuilt in
Kapasitas batere900 jepret960 jepret
Berat (BO)760 gram680 gram
Ukuran141 x 113 x82mm144 x 111 x 71mm
Harga retail standar produsenUS$ 2099US$ 2099


Sekedar catatan, menurut opini saya melihat angka-angka diatas Canon lebih unggul di low light (ISO rating lebih tinggi), Video (ganti aperture on the fly) dan koneksi wi-fi serta GPS sudah built in. Sementara dari kecepatan dan akurasi autofokus (canon 6D hanya 11 titik AF dan 1 cross type sementara Nikon D600 sudah 39 titik dengan 9 cross type), rating shutter count dan kecepatan burst mode, Nikon lebih unggul. Tapi keduanya adalah kamera yang sangat menjanjikan dan kita berharap kedepannya akan muncul lebih banyak kamera full frame yang lebih murah lagi heheh… Yang lebih penting lagi, merek apapun kameranya semua kembali ke kita sebagai pemakai, kamera bagaimanapun adalah sebuah alat yang mendukung visi dan bukan sebaliknya


0 Lensa Prime

Bagi anda yang baru terjun di dunia fotografi pasti timbul pertanyaan di benak anda, apa itu lensa prime. Lensa prime adalah lensa yang hanya memiliki satu focal length. Contoh lensa prime adalah lensa Canon 50mm f/1.8, Nikon 35mm f/1.4G, Canon EF 20mm f/2.8 atau lensa Tamron 90mm f/2.8 Macro.

Semua lensa yang hanya memiliki satu focal length tunggal disebut lensa prime atau fixed, sebagai kebalikan dari lensa zoom yang memiliki banyak titik focal length. Jika lensa prime hanya memiliki satu focal length sementara lensa zoom memiliki banyak focal length, lalu apa saja kelebihannya?

Beberapa Keistimewaan Lensa Prime

Beberapa sifat dibawah ini merupakan sebuah generalisasi, karena ada lensa prime tertentu yang mungkin cacat atau memang kualitasnya tidak sesuai harapan atau harganya lebih mahal. Namun mayoritas lensa prime menyandang sifat-sifat berikut ini:

  • Harga, lensa prime biasanya lebih terjangkau secara harga karena memiliki konstruksi dan mekanisme lebih simpel dibandingkan lensa zoom. Tidak perlu elemen bergerak untuk zoom in atau zoom out.
  • Lensa Cepat, lensa prime biasanya memiliki aperture maksimal yang sangat lebar sehingga mampu mengumpulkan banyak cahaya. Kualitas inilah yang membuat lensa prime disebut lensa cepat karena kita bisa menggunakan shutter speed tinggi saat memaksimalkan aperture. Aperture lebar juga membuat viewfinder lebih cerah.
  • Bokeh. Salah satu karakteristik paling diburu dari lensa prime adalah kualitas bokeh yang dihasilkan lensa ini. Karena memiliki aperture maksimal yang besar, maka kualitas bokeh akan makin oke.
  • Zoom Dengan Kaki, lensa prime memacu kita untuk kreatif. Dengan tidak adanya fitur zoom, maka kita dipaksa melangkahkan kaki dan berpikir lebih keras saat mengkomposisi sebuah foto. Banyak yang berargumen bahwa ini bisa memacu kreatifitas kita saat memotret.
  • Ukuran dan Berat, lensa prime memiliki ukuran fisik yang kecil, ringan dan lebih kompak. Dengan hanya memiliki satu titik focal length, maka lensa prime tidak harus memiliki konstruksi mekanis yang njlimet sehingga bentuk dan ukurannya lebih efisien.
  • Kualitas, lensa prime cenderung memiliki kualitas optik yang sangat bagus. Produsen membuat lensa prime dan hanya harus berfokus bagaimana menghasilkan kualitas gambar yang paling bagus di focal length tersebut.


0 Panduan Teknik Fotografi Makro bagi Pemula

Defenisi klasik fotografi makro adalah ukuran objek foto pada negatif film, ukurannya sama dengan objek nyata, dengan kata lain rationya 1:1.

Seiring kemajuan teknologi yang menghasilkan fotografi digital, defenisi fotografi makro pun berubah menjadi lebih dinamis yaitu teknik pengambil foto objek dalam jarak yang sangat dekat, berkisar antara 10-60 cm dari lensa kamera. Sedangkan jarak yang lebih dekat dari 10 cm, bisa dikatakan telah memasuki wilayah fotomikrografi.

Defenisi inipun menjadi rancu karena bisa saja pada saat pengambilan foto jarak objek dengan lensa, katakanlah 2 meter, bisa “direkayasa” menjadi fotografi makro. Hal ini bisa dilakukan pada foto yang memiliki resolusi yang sangat tinggi misalnya 40 megapixel. Misalnya mengambil foto seseorang dari jarak 2 meter dari lensa, lalu pada saat pengeditan, bagian mata di zoom atau diperbesar (magnification) trus di cropping, maka jadilah fotografi makro 

Tips Teknik Memperoleh Hasil Foto Makro yang Bagus

Tujuan umum fotografi makro adalah untuk mendapatkan detail objek. pada fotografi makro hal-hal yang perlu ditekankan adalah:

  • Memiliki Tujuan; untuk memperoleh hasil yang maksimal penting diketahui tujuan pengambilan fotografi makro, apakah hanya untuk sekedar iseng, seni, kepentingan ilmiah, pemberitaan atau promosi produk, dengan demikian kita bisa fokus. Biasanya untuk kepentingan ilmiah dan pemberitaan lebih mengutamakan “pesan foto” daripada keindahannya (seni), namun akan menjadi foto yang hebat apabila keduanya dapat disatukan.
  • Menggunakan manual fokus (kalau ada pada kamera tentunya), karena seringkali autofokus “tidak mengetahui” bagian mana yang kita inginkan dari objek untuk difokuskan.
  • Menggunakan fitur self timer kamera, sehingga kamera benar-benar bebas dari goncangan.
  • Sebaiknya tidak menggunakan flash khususnya pada objek yang sangat dekat (lebih dekat dari 10-30 cm), penerangan objek dapat dilakukan dengan mengarahkan objek pada sumber cahaya. untuk penerangan pada benda bergerak (serangga, dll) menggunakan senter atau lampu baca
  • Menggunakan penyangga kamera; fotografi makro sangat sensitif terhadap goncangan, gunakan monopod, bipod, tripod, tetrapod atau benda-benda lain sebagai penyangga kamera misalnya buku atau kardus
  • Menggunakan lensa khusus makro atau mengaktifkan modus makro pada kamera.
  • Menggunakan mode aperture priority (bukaan lensa) lebar/nilai f rendah, ISO (sensifitas sensor kamera terhadap cahaya) rendah dan shutter speed relatif tinggi. Maaf untuk pembaca, khususnya kepada fotografer pemula, tips terakhir ini memang relatif sulit tapi akan gampang apabila benar-benar minat akan fotografi.


sebagaimana ditulis oleh Rahmad Agus Koto, author pada : kompasiana.com

0 Tips Memotret Objek Bergerak (pemula)

Ini  mungkin yang menjadi  kendala bagi para penghobi fotografi yang masih pemula, pasti akan penasaran dengan bagaimana cara untuk mengambil gambar pada objek yang bergerak. Secara umum, istilah action photography ataufotografi gerak berhubungan dengan pemotretan pada acara-acara olahraga. Tak bisa dipungkiri bahwa memotret atlet di acara olahraga merupakan tantangan, tapi fotografi gerak membutuhkan lebih dari itu. Setiap situasi di mana orang-orang atau benda selalu bergerak, termasuk menghabiskan waktu bersama anak-anak, bepergian dengan mobil atau kereta api sangat potensial untuk teknik ini. Berikut adalah beberapa teknik yang akan membantu anda meningkatkan keterampilan memotret benda bergerak.

  • Sinkronisasi
Salah satu aspek yang paling penting dalam fotografi gerak adalah sinkronisasi, yang mengantisipasi saat yang tepat untuk memotret. Jika dibuat terlalu dini, kamera tidak akan menangkap gambar yang bagus dan jika dibuat terlambat, waktu atau gambar yang paling penting terlewatkan. Untuk alasan tersebut, jenis fotografi ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana mengantisipasi saat-saat intensitas maksimum. Namun, anda tidak harus menunggu acara tertentu untuk melatih kemampuan, karena gerakan dapat ditemukan di mana-mana di sekitar kita.

  • Peralatan yang Dibutuhkan
Membekukan suatu subjek dalam sebuah foto dapat dicapai dengan menggunakan flash. Dalam hal lensa yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari, Anda dapat menggunakan hampir semua jenis lensa, tetapi saat pengambilan gambar kegiatan olahraga, lensa tele hukumnya wajib. Jika aksi atau gerak terjadi di dekat kamera, lensa dengan panjang fokus antara 200 mm dan 300 mm sudah cukup. Tetapi untuk aksi atau gerak yang terjadi di panggung, landasan pacu atau stadion, yang berarti jarak yang agak jauh antara kamera dan subjek, anda perlu lensa dengan panjang fokus 400 mm, 500 mm atau bahkan 600 mm dalam situasi tertentu.

  • Waktu Exposure
Aksi atau gerak dapat diabadikan dalam foto dengan dua cara: versi pertama berarti shutter speed rendah dan yang kedua diwakili oleh waktu exposure yang menciptakan efek blur dan perasaan gerak. Memindahkan kamera ke arah yang diinginkan relatif mudah jika anda ingin “membekukan” objek yang bergerak, yang dapat ditangkap bahkan dengan nilai yang lebih rendah dari waktu exposure, umumnya antara 1/250 detik dan 1/500 detik. Apabila subjeknya bergerak dengan sudut 45 derajat dari kamera, pembekuan gambar dengan nilai yang disebutkan di atas akan lebih sulit.

Dengan demikian, untuk memastikan gambar tersebut berhasil, disarankan untuk memilih nilai antara 1/500 detik dan 1/1000 detik. Tapi jika anda memotret subjek bergerak dengan kecepatan tinggi, seperti mobil atau atlit yang sedang berlari, anda disarankan untuk memilih nilai sekitar 1/2000 detik.

  • Penempatan Posisi
Selain penggunaan perangkat yang akan membantu menangkap subjek dan pengaturan waktu exposure yang tepat, posisi kamera merupakan faktor penting yang berkontribusi pada keberhasilan fotografi gerak. Lokasinya harus sesuai dengan orang yang akan melihat gambar. Jika Anda berhasil merefleksikan pemirsa ke dalam suasana dan mengatur adegan, gambar anda akan lebih memukau.


 

extremezooming Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates