Rabu, 10 Oktober 2012

0 Apa itu Depth of Field?

Depth of Field atau DOF apa itu...? mungkin ini yang terselip di benak para pembaca atau penghobi fotografi yang masih pemula, disini akan saya jelaskan mengenai definisi Depth of Field atau sering disebut juga f-stop. DOF, atau Depth of Field, untuk mudahnya bisa dijelaskan sebagai “bagian dari foto yang kelihatan tajam”.

Teorinya begini: lensa hanya bisa fokus di satu jarak tertentu, dan pada titik fokus ini gambar akan kelihatan paling tajam. Sedikit maju atau sedikit mundur dari titik ini maka gambar akan mulai blur secara gradual. Namun, karena kemampuan mata kita terbatas, perubahan ketajaman yang sedikit demi sedikit ini belum tentu tertangkap mata. Nah, area yang bagi mata masih bisa dianggap tajam inilah yang disebut Depth of Field.

Di fotografi, area ini bisa besar, bisa juga kecil. Bila kita melihat foto pemandangan di mana gambar terlihat tajam dari ujung ke ujung, itu berarti depth of field nya besar. Kalau kita melihat foto closeup di mana hanya obyeknya saja yang tajam sementara latar depan dan latar belakangnya tampak blur, maka depth of field nya lebih kecil.

Semakin besar depth of field, semakin besar area di foto yang tampak tajam. Semakin kecil depth of field semakin sempit area di foto yang tajam.

Lalu bagaimana mengatur depth of field ketika memotret?

Depth of field bergantung pada tiga faktor: jarak obyek, panjang lensa, dan besar kecil bukaan lensa (aperture). Jadi kalau jarak sama, dan lensa yang dipakai sama, maka untuk mengubah depth of field kita harus mengatur besar-kecil aperture.

Bicara besar kecil aperture sampailah kita ke istilah f-stop, atau f-number. Pernah dengar kan? Angka f-stop yang lazim misalnya f/4, f/16 atau f/22. Ini dia yang dimaksud dengan besar kecil aperture. Tidak usah bingung, ini rumus sederhana yang bunyinya: panjang fokus (f) dibagi dengan diameter aperture. Semakin besar angka diameter aperture, semakin kecil-lah nilai f-number kita (ya iya lah, angka pembagi makin besar, ya hasil pembagiannya jadi makin kecil)

Teorinya: semakin besar f-number, depth of field akan makin besar, semakin kecil f-number, depth of field makin kecil.

Jadi: Semakin besar f-number, semakin banyak area yang tajam, semakin kecil f-number, semakin sedikit area yang tajam.

Memakai f/16 atau f/22 misalnya, akan membantu untuk memotret pemandangan, karena dari ujung ke ujung gambar akan kelihatan tajam. Untuk gambar yang sama, memakai f/4 atau f/2.8 akan membantu untuk mengisolasi suatu obyek tertentu di dalam gambar, agar menjadi lebih dominan dari sekelilingnya.

Ah, ini sih hanya buat SLR. Kamera poket tidak bisa.
Siapa bilang? Di kamera digital yang mini pun tersedia fasilitas Aperture Priority. (Tentu hasilnya tidak sama dengan SLR, karena di kamera mini kita tidak bisa gonta-ganti lensa. Ingat di atas, depth of field juga bergantung pada panjang lensa).

Untuk ‘bermain-main’ depth of field kita tidak harus pakai SLR…

lihat ilustrasi gambar di bawah ini

menggunakan f-stop besar


menggunakan f-stop kecil




0 komentar:

Poskan Komentar

 

extremezooming Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates