Rabu, 03 Oktober 2012

0 Apakah ISO itu?


Dalam fotografi tradisional, ISO atau ASA adalah suatu indikasi tentang bagaimana tingkat sensitifitas sebuah film terhadap cahaya. Hal tersebut diukur dalam hitungan angka (mungkin anda pernah melihatnya dalam kotak pembungkus roll film – ASA 100, 200, 400, 800 dst). Lebih rendah nilai nya maka tingkat sensitivitas terhadap cahaya pada film tersebut juga rendah, dan sebaliknya.

Dalam fotografi digital, ISO mengukur tingkat sensitivitas suatu sensor gambar. Prinsip yang sama seperti yang diterapkan pada fotografi manual (tradisional), angka yang semakin rendah maka semakin lemah pula sensitivitas kamera tersebut terhadap cahaya. ISO yang tinggi pada umumnya dipergunakan saat situasi gelap untuk memperoleh akurasi shutter yang lebih cepat, misalnya seperti pada even-even olahraga indoor, saat ingin membekukan suatu gerakan dalam intensitas cahaya yang rendah.

Berikut ilustrasi di bawah, hasil tangkapan foto yang diambil dengan setting ISO 100 (kiri) dan satu lagi dengan ISO 3200 (kanan).



ISO 100 secara umum dianggap sebagai setting normal pada tiap kamera, memberikan tangkapan gambar yang crisp/ kering (agak kasar). Kebanyakan orang lebih membiarkan kamera digital mereka ada posisi 'auto mode' dimana kamera tersebut memilih setting ISO yang cocok, sesuai dengan kondisi sekeliling obyek yang ingin anda shot (biasanya selalu mencoba untuk memilih ISO yang serendah mungkin) tetapi kebanyakan kamera juga memberikan pilihan untuk memilih ISO anda sendiri.

Saat anda tidak menggunakan mode auto dan memilih suatu ukuran ISO yang spesifik, anda akan mengetahui bahwa hal tersebut mempengaruhi celah ISO yang dihasilkan serta kecepatan shutter yang diperlukan untuk sebuah tangkapan gambar. Contohnya ketika anda menambah ISO anda dari ISO 100 ke ISO 400, anda akan tahu bahwa anda dapat men-shoot pada kecepatan shutter yang lebih tinggi dan/atau celah ISO yan lebih kecil.

Jika pencahayaan cukup, gunakan sedikit setting grain (kasar), serta pakai tripod jika subyek nya tak bergerak (stationary).

Namun bila dalam kondisi gelap, maka lebih baik anda memilih setting grain, tidak perlu menggunakan tripod, dan jika subyeknya adalah benda bergerak, akan lebih baik pula jika meningkatkan level ISO sebagaimana anda mengambil gambar dengan kecepatan shutter yang lebih kencang.

Beberapa situasi yang mungkin membutuhkan setting ISO yang lebih tinggi, antara lain :
  • Acara olahraga indoor – saat subyek bergerak cepat, anda mungkin harus membatasi pencahayaan yang ada.
  • Konser – cahaya yang ada juga sedikit dan area 'no-flash'
  • Galeri seni/ art gallery atau mungkin gereja – beberapa galeri seni menerapkan aturan dalam penggunaan flash dan tentu saja di dalam ruangan tidak baik menyala.
  • Pesta ulang tahun – meniup lilin dalam ruangan gelap dapat memberikan efek shot moody yang baik, dimana tentunya hal tersebut akan rusak jika anda menggunakan cahaya flash yang terang. Cukup dengan meningkatkan ISO, gambar tersebut dapat ditangkap dengan baik.
ISO adalah suatu aspek yang penting dalam fotografi digital, untuk dimengerti pula. Jika anda ingin memperoleh kemampuan mengontrol kamera digital anda, maka sering-seringlah berlatih dengan setting yang berbeda-beda.

Sebagimana ditulis oleh Darren Rowse, author pada Digital Photography School

0 komentar:

Poskan Komentar

 

extremezooming Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates